Weisss, keren ya judul dari postingan yang satu ini.
Tapi memang saya bingung saat menentukan judul yang cocok buat tugas (ya... tugas) yang diberikan oleh dosen TI yang agak rumit ini. Mau bagaimana lagi, cuma kata itu yang terbersit di otak saya.
Oke... yuk masuk ke inti postingan.
The story is, saya diberi tugas buat bikin laporan tentang apa yang dinamakan enkripsi data. Nah, berdasarkan info yang saya dengar dari beberapa teman, ada dua web yang menyediakan jasa mengenkripsi data secara GRATIS. Kedua web itu adalah: http://online-calculators.appspot.com/caesar/ dan http://www.braingle.com/. Dalam kasus ini, saya menggunakan web yang pertama. Begini tampilannya:
Simple but awesome, yeah.
Saking awesome-nya, tangan saya sampai gatal ingin mencoba aplikasi yang disediakan di web tersebut. Sebelumnya, web tersebut menyediakan empat metode untuk mengenkripsi data. Yaitu:
-Caesar cipher -Caesar shift cipher
-ROT13 -ROT47
Keempat metode tersebut tertera di samping kiri tampilan web. Garis besar dari metode-metode tersebut sama memang, hanya saja cara-caranya yang berbeda. Saya akhirnya menjatuhkan pilihan saya pada metode Caesar cipher.
Saya menuliskan kalimat "I dont have anything to say, you have done the best that you have could" di dalam kolom yang ada pada web. Saya lalu memilih mode yang ada di bawah kolom, yaitu Encrypt dan Decrypt. Untuk yang pertama, saya memilih mode Encrypt. Setelah saya ketikan kalimat, pilih mode dan klik, encode/decode kalimat yang sebelumnya bisa dimengerti berubah menjadi kumpulan huruf yang tidak berarti. Awesome!
Kalimat yang saya masukan berubah menjadi "L grqw kdyh dqbwklqj wr vdb, brx kdyh grqh wkh ehvw wkdw brx kdyh frxog". Itu apa?
Nah, keren kan. Bila berminat, silahkan mencoba sendiri ke link yang saya cantuimkan diatas ya.
Itu tuh laporan saya tentang teknologi enkripsi yang keren ini. Teknologi memang keren dan terus berkembang ya.
Aku
selalu membenci teknologi. Bukan karena imbasnya ke anak muda zaman sekarang,
ataupun karena dosen pengampunya *eh. Tapi lebih karena aku adalah orang yang gaptek. Oke... jujur, aku baru mengenal
handphone disaat aku menginjak kelas lima SD. Itupun karena ayahku menemukan
barang aneh yang bisa menyala itu saat memancing di pelabuhan bersamaku.
Sebelum itu, sering sih aku mendengar istilah ‘hape’ dari teman-teman sekelas
yang tajir. Tapi, dulu kukira hape itu adalah sebuah mainan berupa ayunan atau
mobil remote control. Haha.
Jujur pula, aku baru menyentuh yang
namanya komputer di kelas tujuh SMP. Memalukan, kan? Rasanya seperti akan
bertemu monster bertangan enam berwarna hijau kekuningan dan berlendir setiap
kali akan ada jam pelajaran TIK kala itu. Mouse tak ubahnya menjadi tikus
penggigit jari tangan yang selalu membuat jemariku gemetaran. Nilai TIK di
rapor kelas tujuh SMP saat itupun hanya mencapai 65, hiks.
Seumur hidupku, sudah tak terhitung
berapa kali komputerku eror gara-gara aku yang sok tau dan asal pencet tombol
ini itu. Dell, komputer pertamaku yang masih menggunakan CPU tidur
(horizontal), kini berada di suatu tempat di dalam gudang sana. Tertidur di dalam
kegelapan bersama tikus-tikus dan seekor tokek yang sangat berisik. Harus aku
akui, nasib Dell-ku yang malang itu memang karena ulahku. Sudah tak terhitung
pula berapa kali sudah aku bolak-balik ke counter dan meminta tolong ke
mbak-mbak penunggu counter untuk membetulkan hape-ku yang suka eror. Oke... itu
juga salahku yang sok tau.
Bagaimana? Aku gaptek banget, kan?
Tapi... namanya juga manusia. Aku
juga punya naluri, terutama naluri untuk berkembang *ciee. Disaat menginjak
bangku kelas sembilan SMP, aku mulai berpikir. Akhirnya, setelah berpikir, aku
mulai mendekati teman-temanku yang suka online dan ahli IT dan mengakrabkan
diri dengan mereka. Perlahan, aku mulai mencuri ilmu dari mereka, terutama ilmu
tentang dunia IT. Aku pun mulai memberanikan diri ke warnet sendiri, main game
sendiri, bikin akun Faceb*ook sendiri. Dan yang lebih mengagetkan lagi, aku
bisa!
Ya, aku menarik kesimpulan pada
akhirnya. Bahwa bila ingin pintar akan teknologi, kuncinya ada dua. Yaitu
belajar berbahasa Inggris dari guru dan belajar komputer dan pengoprasiannya
dari anak-anak online.
Seperti halnya diriku yang masih dan
selalu berkembang, teknologi pun juga demikian. Hape pertama ayahku, yang
ditemukan saat memancing itu, adalah hape Nok*ia berlayar hitam putih dan tahan
banting. Saat itu, benda semacam itu mungkin telah menjadi barang yang sangat
mewah oleh beberapa kalangan. Namun bila dibandingkan dengan zaman sekarang,
hape itu tak ubahnya menjadi sampah, atau paling mentok ya buat ganjal pintu
yang engselnya sudah rusak.
Lha... ini menjadi bukti bahwa
teknologi semakin berkembang dari masa ke masa. Aku jadi ingat ketika pertama
kali melihat tablet di teve dulu ketika aku masih SMA. Kupikir kala itu, tablet
pasti harganya lebih mahal ketimbang motor baru kakak yang warnanya hitam itu.
Eh, ternyata sekarang, pengguna tablet bisa kita temukan di mana-mana karena
saking murahnya. Bahkan, kata seseorang yang sangat kaya di luar sana (saya
lupa namanya): “Tablet akan punah di tahun 2020”. I just can say WOW!
Semua hal tentang teknologi ini
membuatku berimajinasi, kira-kira di masa depan ketika aku sudah punya istri
dan anak (amin), akan ada benda aneh apa lagi ya?
Yang paling jelas di dalam
pikiranku: kelak, akan ada sebuah teknologi dimana kita bisa melakukan banyak
hal dengan bantuan sebuah bulatan kecil terbuat dari logam yang menempel di
kepala kita. Bulatan itu dapat membaca pikiran kita dan memvisualisasikan apa
saja yang kita bayangkan. Misalnya: aku membanyangkan di depanku terparkir satu
unit Lamborghini Aventador berwarna merah hati lengkap dengan cewek Jepang seksi
tengah duduk di dalamnya. Maka, komputer kecil itu akan langsung
memvisualisasikan hal itu dan membuat mata kita melihat gambaran yang tadi kita
bayangkan itu secara nyata.
Jadi, dengan benda kecil itu, kita
bisa terbantu merancang apa saja. Mungkin bisa rumah, alat bantu ... apa saja.
Tentu saja akan mempermudah pekerjaan sehari-hari kita.
Dengan benda itu pula, kita bisa
berkomunikasi di sosial media dengan gampang. Karena dengan adanya alat tadi,
halaman web yang sekarang kita buka melalui gadget, akan bisa langsung
tergambar di depan mata kita. Dan kita bisa mengoprasikannya hanya dengan
memikirkan. Awesome! Right?
Tapi sayangnya, aku bukanlah
peneliti, ilmuwan, ataupun ahli IT. Aku hanya manusia penuh dosa penghuni
kampus FIB Undip jurusan Sastra Indonesia yang bercita-cita menjadi penulis. Aku
hanya bisa membayangkan, tidak merealisasikan. Dan omong kosong diatas adalah
salah satu bentuk imajinasi atau gambaranku tentang teknologi masa depan (dengan
sedikit tambahan).
So, beberapa hal di atas adalah apa
yang ada di pikiranku ketika mendengar kata ‘teknologi’. Mohon maaf bila ada
tutur kata yang salah. Maklum... manusia adalah mesin-pembuat-dosa yang ulung.
Thank you very much... :*