Lama tidak merilis sebuah novel, membuat saya beranggapan bahwa Eka Kurniawan sedang berada di dalam suatu proses penelitian. Tentu, sebagai salah satu penggemarnya, saya juga menaruh harapan besar terhadap hasil penelitian itu. Sampai suatu ketika saya menemukan berita bahwa Eka akan merilis novel terbarunya. Sumpah, saya kegirangan.
Oke... judulnya Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Saya sempat mengira bahwa isi dari novel ini tidak akan jauh-jauh dari masalah percintaan remaja. Judulnya saja seperti itu. Apalagi ditambah dengan cover bergambar burung yang cute abis. Ah.... Tapi, ketika saya membuka halaman depan dan menemukan kalimat pembuka: "Hanya orang yang gak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati". Oh, God, rasanya seperti melihat pertandingan bola dimana tim kesayangan kita membuat gol pada detik pertama. Kalimat pembuka yang, harus saya bilang, keren. Dari kalimat tersebut, kita langsung diberi gambaran tentang inti permasalahan di dalam novel itu. Yaitu: kontol yang nggak bisa ngaceng. Dari kalimat tersebut pula, secara otomatis pembaca akan langsung terikat dan muncul rasa keinginan untuk terus membaca kelanjutannya. Dan... kalimat pembuka tersebut sangat berkesan dan terus melayang di pikiran. Kuat.
Saya membayangkan, menikmati novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas sama rasanya seperti kita menikmati kacang saat bersantai. Tak bisa berhenti, meski yang dinikmati berporsi mini. Justru karena porsi mini-nya itu yang membikin ketagihan. Isi dari novel ini merupakan potongan-potongan kecil yang disusun acak, tapi dengan perhitungan yang sangat matang. Mungkin, bila novel ini disusun dengan plot yang klise, tidak akan ada kesan buat pembaca karena suasana yang dibawakan begitu flat. Namun, dengan pengacakan dan alur yang saling bertumpukan yang dilakukan oleh Eka, pembaca seperti dibawa menyusuri pegunungan, dengan puncak yang hampir selalu berada di akhir bab.
Adalah Ajo Kawir, seorang yang menderita impotensi sejak kecil karena terlibat di dalam suatu peristiwa mencengangkan di tengah malam atas ajakan sahabatnya, Si Tokek. Karena merasa bersalah dan harus bertanggung jawab, Si Tokek melakukan segala cara untuk membangkitkan burung Ajo Kawir. Termasuk meminta bantuan ayahnya, Iwan Angsa. Namun, semuanya gagal. Burung Ajo Kawir tetap terlelap indah. Ajo Kawir pun tumbuh sebagai seorang jagoan, tukang berkelahi di sana-sini. Karena hobinya inilah, ia akhirnya bertemu dengan Iteung, lawan berkelahinya yang kelak dijadikannya istri. Iteung rela menjadi suami Ajo Kawir, meski ia tahu bahwa Ajo Kawir tidak bisa ngaceng. Nah, masalah muncul ketika Ajo Kawir mendapati si Iteung hamil. Dan dimulailah perjalanan Ajo Kawir yang karena kemarahannya, ia masuk ke dalam penjara, lalu keluar dan bekerja sebagai supir truk, dan akhirnya pulang kembali ke kampung halamannya dengan rupa yang berbeda.
Bisa dibilang, semua tokoh di dalam novel ini memiliki peranan penting, meski ada yang hanya muncul sekilas-dua kilas. Misal: pelacur yang diminta Iwan Angsa untuk membangunkan kontol Ajo Kawir. Ia semakin menegaskan bahwa masalah ke-ngaceng-an Ajo Kawir merupakan masalah serius. Atau Si Macan yang dibunuh Ajo Kawir meski ia sudah tak berdaya. Pembunuhan itu membuat Ajo Kawir dipenjara dan keluar dalam wujud yang lebih tenang dan bijaksana. Seolah, hukum sebab-akibat rasanya begitu kental di novel ini. Eka, sekali lagi, memperhitungkan betul apa yang ditulisnya. Saya kira, waktu tiga tahun (2011-2014) yang dihabiskan Eka untuk menuliskan novel setebal 252 halaman ini terbayarkan sudah.
Saya pribadi tidak begitu mempermasalahkan bahasa yang digunaan oleh Eka. Barangkali, bagi sebagian orang, ketika membaca Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas akan menggeliat sesekali karena ke-vulgar-annya. Namun, kembali lagi ke logika cerita. Ajo Kawir dan kebanyakan tokoh merupakan tokoh yang liar. Saya rasa memang pantas bahasa yang vulgar tersebut digunakan oleh orang-orang macam Ajo Kawir, Si Kumbang dan semua tokoh di dalam novel ini.
Latar di dalam novel, yang saya tangkap setelah saya membacanya, merupakan lingkungan kaum urban. Pinggiran. Tentu, bahasa mana lagi yang cocok digunakan kaum urban selain bahasa vulgar seperti itu? Dan semua kejadian di dalam novel, yang kebanyakan isinya cuma seks, berkelahi, seks lagi, berkelahi lagi, memang berhasil menggambarkan lingkungan pinggiran tersebut.
Ah, setelah membaca novel tipis ini, seakan semua rindu, dendam, dan segala rasa yang muncul saat menanti karya Eka selama sepuluh tahun, dibayar tuntas sudah. Puas.
Manusia dianugerahi kecerdasan oleh
Tuhan agar bisa mengelola bumi ini dengan sebaik mungkin. Dengan kecerdasan
ini, barbagai macam benda telah diciptakan manusia. Mulai dari alat perkakas
sederhana, kendaraan hingga bom diciptakan. Bahkan, dengan kecerdasannya,
manusia menciptakan kecerdasan lain yang disebut dengan nama kecerdasan buatan.
Kecerdasan buatan adalah kecerdasan diciptakan dan dimasukkan
ke dalam suatu mesin (komputer) agar dapat melakukan pekerjaan
seperti yang dapat dilakukan manusia. Biasanya kecerdasan buatan
seperti ini yang kita sebut dengan komputer.
Nah,
salah satu contoh kecerdasan buatan yang sering kita temui ialah pintu
otomatis.
Hampir
di setiap mall dan perkantoran kita akan menjumpai pintu otomatis. Pintu ini
akan membuka ketika kita mendekatinya dan menutup ketika kita telah melaluinya.
Pintu otomatis merupakan rangkaian mesin rumit yang terdiri dari banyak bagian
seperti sensor dan sistem motor penggerak yang bekerja secara harmonis sehingga
pintu otomatis dapat membuka dan menutup dengan aman.
Pintu otomatis menggunakan teknologi
yang disebut dengan sensor. Sensor biasanya diletakan di sekitar pintu
otomatis, baik dari sisi luar pintu maupun luar pintu. Ada banyak sensor yang
digunakan untuk pintu otomatis ini. Diantaranya ialah:
1.
Sensor optik
2.
Sensor gerakan
3.
Sensor panas tubuh
4.
Sensor tekanan
5.
Sensor jarak jauh
Kelima sensor diatas memiliki cara
kerjanya masing-masing sesuai dengan namanya. Namun semuanya memiliki tujuan
yang sama, yaitu: membuka pintu secara otomatis ketika ada orang yang akan
melewati pintu tersebut.
Setelah menelisik tentang pintu
otomatis ini, kita mungkin akan memasukan pintu otomatis sebagai salah satu
kecerdasan buatan yang diciptakan manusia. Tentu saja masih banyak lagi
pengaplikasian kecerdasan buatan yang bisa kita temui dimana saja.
Weisss, keren ya judul dari postingan yang satu ini.
Tapi memang saya bingung saat menentukan judul yang cocok buat tugas (ya... tugas) yang diberikan oleh dosen TI yang agak rumit ini. Mau bagaimana lagi, cuma kata itu yang terbersit di otak saya.
Oke... yuk masuk ke inti postingan.
The story is, saya diberi tugas buat bikin laporan tentang apa yang dinamakan enkripsi data. Nah, berdasarkan info yang saya dengar dari beberapa teman, ada dua web yang menyediakan jasa mengenkripsi data secara GRATIS. Kedua web itu adalah: http://online-calculators.appspot.com/caesar/ dan http://www.braingle.com/. Dalam kasus ini, saya menggunakan web yang pertama. Begini tampilannya:
Simple but awesome, yeah.
Saking awesome-nya, tangan saya sampai gatal ingin mencoba aplikasi yang disediakan di web tersebut. Sebelumnya, web tersebut menyediakan empat metode untuk mengenkripsi data. Yaitu:
-Caesar cipher -Caesar shift cipher
-ROT13 -ROT47
Keempat metode tersebut tertera di samping kiri tampilan web. Garis besar dari metode-metode tersebut sama memang, hanya saja cara-caranya yang berbeda. Saya akhirnya menjatuhkan pilihan saya pada metode Caesar cipher.
Saya menuliskan kalimat "I dont have anything to say, you have done the best that you have could" di dalam kolom yang ada pada web. Saya lalu memilih mode yang ada di bawah kolom, yaitu Encrypt dan Decrypt. Untuk yang pertama, saya memilih mode Encrypt. Setelah saya ketikan kalimat, pilih mode dan klik, encode/decode kalimat yang sebelumnya bisa dimengerti berubah menjadi kumpulan huruf yang tidak berarti. Awesome!
Kalimat yang saya masukan berubah menjadi "L grqw kdyh dqbwklqj wr vdb, brx kdyh grqh wkh ehvw wkdw brx kdyh frxog". Itu apa?
Nah, keren kan. Bila berminat, silahkan mencoba sendiri ke link yang saya cantuimkan diatas ya.
Itu tuh laporan saya tentang teknologi enkripsi yang keren ini. Teknologi memang keren dan terus berkembang ya.
Aku
selalu membenci teknologi. Bukan karena imbasnya ke anak muda zaman sekarang,
ataupun karena dosen pengampunya *eh. Tapi lebih karena aku adalah orang yang gaptek. Oke... jujur, aku baru mengenal
handphone disaat aku menginjak kelas lima SD. Itupun karena ayahku menemukan
barang aneh yang bisa menyala itu saat memancing di pelabuhan bersamaku.
Sebelum itu, sering sih aku mendengar istilah ‘hape’ dari teman-teman sekelas
yang tajir. Tapi, dulu kukira hape itu adalah sebuah mainan berupa ayunan atau
mobil remote control. Haha.
Jujur pula, aku baru menyentuh yang
namanya komputer di kelas tujuh SMP. Memalukan, kan? Rasanya seperti akan
bertemu monster bertangan enam berwarna hijau kekuningan dan berlendir setiap
kali akan ada jam pelajaran TIK kala itu. Mouse tak ubahnya menjadi tikus
penggigit jari tangan yang selalu membuat jemariku gemetaran. Nilai TIK di
rapor kelas tujuh SMP saat itupun hanya mencapai 65, hiks.
Seumur hidupku, sudah tak terhitung
berapa kali komputerku eror gara-gara aku yang sok tau dan asal pencet tombol
ini itu. Dell, komputer pertamaku yang masih menggunakan CPU tidur
(horizontal), kini berada di suatu tempat di dalam gudang sana. Tertidur di dalam
kegelapan bersama tikus-tikus dan seekor tokek yang sangat berisik. Harus aku
akui, nasib Dell-ku yang malang itu memang karena ulahku. Sudah tak terhitung
pula berapa kali sudah aku bolak-balik ke counter dan meminta tolong ke
mbak-mbak penunggu counter untuk membetulkan hape-ku yang suka eror. Oke... itu
juga salahku yang sok tau.
Bagaimana? Aku gaptek banget, kan?
Tapi... namanya juga manusia. Aku
juga punya naluri, terutama naluri untuk berkembang *ciee. Disaat menginjak
bangku kelas sembilan SMP, aku mulai berpikir. Akhirnya, setelah berpikir, aku
mulai mendekati teman-temanku yang suka online dan ahli IT dan mengakrabkan
diri dengan mereka. Perlahan, aku mulai mencuri ilmu dari mereka, terutama ilmu
tentang dunia IT. Aku pun mulai memberanikan diri ke warnet sendiri, main game
sendiri, bikin akun Faceb*ook sendiri. Dan yang lebih mengagetkan lagi, aku
bisa!
Ya, aku menarik kesimpulan pada
akhirnya. Bahwa bila ingin pintar akan teknologi, kuncinya ada dua. Yaitu
belajar berbahasa Inggris dari guru dan belajar komputer dan pengoprasiannya
dari anak-anak online.
Seperti halnya diriku yang masih dan
selalu berkembang, teknologi pun juga demikian. Hape pertama ayahku, yang
ditemukan saat memancing itu, adalah hape Nok*ia berlayar hitam putih dan tahan
banting. Saat itu, benda semacam itu mungkin telah menjadi barang yang sangat
mewah oleh beberapa kalangan. Namun bila dibandingkan dengan zaman sekarang,
hape itu tak ubahnya menjadi sampah, atau paling mentok ya buat ganjal pintu
yang engselnya sudah rusak.
Lha... ini menjadi bukti bahwa
teknologi semakin berkembang dari masa ke masa. Aku jadi ingat ketika pertama
kali melihat tablet di teve dulu ketika aku masih SMA. Kupikir kala itu, tablet
pasti harganya lebih mahal ketimbang motor baru kakak yang warnanya hitam itu.
Eh, ternyata sekarang, pengguna tablet bisa kita temukan di mana-mana karena
saking murahnya. Bahkan, kata seseorang yang sangat kaya di luar sana (saya
lupa namanya): “Tablet akan punah di tahun 2020”. I just can say WOW!
Semua hal tentang teknologi ini
membuatku berimajinasi, kira-kira di masa depan ketika aku sudah punya istri
dan anak (amin), akan ada benda aneh apa lagi ya?
Yang paling jelas di dalam
pikiranku: kelak, akan ada sebuah teknologi dimana kita bisa melakukan banyak
hal dengan bantuan sebuah bulatan kecil terbuat dari logam yang menempel di
kepala kita. Bulatan itu dapat membaca pikiran kita dan memvisualisasikan apa
saja yang kita bayangkan. Misalnya: aku membanyangkan di depanku terparkir satu
unit Lamborghini Aventador berwarna merah hati lengkap dengan cewek Jepang seksi
tengah duduk di dalamnya. Maka, komputer kecil itu akan langsung
memvisualisasikan hal itu dan membuat mata kita melihat gambaran yang tadi kita
bayangkan itu secara nyata.
Jadi, dengan benda kecil itu, kita
bisa terbantu merancang apa saja. Mungkin bisa rumah, alat bantu ... apa saja.
Tentu saja akan mempermudah pekerjaan sehari-hari kita.
Dengan benda itu pula, kita bisa
berkomunikasi di sosial media dengan gampang. Karena dengan adanya alat tadi,
halaman web yang sekarang kita buka melalui gadget, akan bisa langsung
tergambar di depan mata kita. Dan kita bisa mengoprasikannya hanya dengan
memikirkan. Awesome! Right?
Tapi sayangnya, aku bukanlah
peneliti, ilmuwan, ataupun ahli IT. Aku hanya manusia penuh dosa penghuni
kampus FIB Undip jurusan Sastra Indonesia yang bercita-cita menjadi penulis. Aku
hanya bisa membayangkan, tidak merealisasikan. Dan omong kosong diatas adalah
salah satu bentuk imajinasi atau gambaranku tentang teknologi masa depan (dengan
sedikit tambahan).
So, beberapa hal di atas adalah apa
yang ada di pikiranku ketika mendengar kata ‘teknologi’. Mohon maaf bila ada
tutur kata yang salah. Maklum... manusia adalah mesin-pembuat-dosa yang ulung.
Thank you very much... :*